KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................KUMPULAN CERPEN SANGGAR SASTRA TASIK (SST)........................

Senin, 08 Februari 2010

KISANAK

Cerpen: Irvan Mulyadie

Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang seniman multitalenta yang sangat gagah. Ia sangat terkenal dengan karya-karyanya yang indah. Dialah anak dari seorang ayah yang bernama Raja Wisunah. Ah, sudah. Mari kita mulai sajah ceritanyah....

Nama seniman itu adalah, Kisanak. Kemahirannya menggubah sesuatu yang tidak berharga menjadi karya seni bernilai tinggi telah membuat namanya harum ke seluruh antero negeri. Mulai dari sastra, lukisan, drama, film, dan karya artistik lainnya. Bahkan ada yang berani bohong, kalau nama Kisanak telah tercatat dalam buku world guiness of record versi bahasa tarzan. Ia tokoh sangat terpandang. Padahal tak setetes pun darah ningrat yang katanya berwarna biru itu mengalir dari tubuhnya yang kering kerontang bak perkebunan diterpa kemarau berkepanjangan. Saking cekingnya, bila dilihat dari samping, tubuh Kisanak nyaris serupa dengan kertas tipis made in ngirit karya anak negeri dan biasanya hasil cetak daur ulang. Nah, nama kisanak pun seolah-olah menjadi magnet tersendiri bagi penggemarnya. Sampai-sampai orang pun lupa bahwa mereka sudah tak lagi objektif dalam memberi penilaian atas karya-karyanya.

Ya, Kisanak sadar sesadar-sadarnya. Semenjak digandrungi oleh banyak orang, ia bukan lagi manusia merdeka. Bak selebriti. Yang namanya selebriti tentu saja tidak boleh berbuat salah. Apalagi salah langkah. Jaim dikitlah. Namun ternyata Kisanak ini stres juga akibat ulah dari para penggemarnya yang kebanyakan suka bertingkah aneh-aneh di depannya. Ingin disebut sebagai pengikut setia. Bahkan rela menjadi pasukan berani mati hanya untuk membela Kisanak jika sewaktu-waktu ada aral melintang seperti maung ngamuk gajah meta. Keterlaluan. Over acting. Dan lebih tepatnya, pikasebeleun.

Kemudian, lama-lama Kisanak ini sudah jadi semacam kultus dalam tanda petik. Banyak sekali orang yang ngekor dalam gaya keseniannya. Bahkan saat Kisanak dengan atau tanpa sengaja membanting stir dengan membuat karya non seni yang kurang masuk di akal, aneh, jorok, serta jauh dari kesan romantisme, eh, malah dapat penghargaan. Padahal, Kisanak main-main saja dalam karya tersebut. Kisanak hanya ingin membuktikan, bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa. Bukan dewa. Setengahnya dewa jugak enggak. Heuheu, kayak lagu Iwan Fals saja. Dan bukan pula anak emasnya dewi fortuna. Memangnya mau dewi fortuna punya anak seperti Kisanak yang seniman krempeng itu? Mimpi kali, ye….

Tapi apa mau dikata? Sehabis Kisanak meluncurkan karya nyleneh (yang kalau boleh jujur sama sekali tidak nampak seperti karya seni) itu ke pasaran, ternyata sambutannya diluar dugaan. Luar biasa. Para kritikus seni menyebut Kisanak sebagai pembaharu yang fenomenal. Antik, dan tiada bandingnya. Media massa pun menyambutnya dengan sangat ramah. Mereka menulis di surat kabar dengan judul yang besar dan tebal disertai warna yang mencolok mata para pembaca sekaligus pula menusuk jantung banyak kawan dan lawannya yang iri dengki. Bagaimana tidak? Dia hanya menerbitkan buku resep masakan ala pengemis jalanan dengan judul: Coél Sambel dan Kekuasaan.

Oya, bagi anda yang belum kenal lebih jauh dengan Kisanak, saya akan mencoba mendeskripsikannya dengan cara saya sendiri. Maklum, dia bukan saudara kandung saya. Hanya beberapa kali saja saya berjumpa. Sesekalinya pernah ngobrol panjang lebar. Tapi kebanyakan hanya say hello. Namun yang membuat saya bangga adalah karena saya tahu perjalanan dari proses kreatifnya. Itu juga dari pengakuannya sendiri saat ngobrol panjang lebar tadi. Seperti monolog di tengah laut. Menggebu tapi tetap sebagai sunyi.

”Sesungguhnya aku malu jadi seniman...” katanya mengawali.

Tentu saja saya terkejut dengan pernyataan tersebut. Tapi tak berani berkomentar. Saya hanya mendengarkan saja seolah memahami akan apa yang dibicarakannya.

”....Sebagai orang yang dianggap mumpuni oleh kebanyakan orang lainnya, seharusnya aku tak boleh menutup diri seperti sekarang. Aku harus memberikan banyak hal, ilmu yang kumiliki, kepada banyak orang yang telah membuat aku menjadi besar seperti ini. Tapi kebesaran macam apa? Aku tak tahu. Hanya seperti inilah keadaannya.

Mereka yang mengelu-elukanku seakan itu yang aku harapkan. Sebenarnya tidak. Sebelumnya aku mengira kalau ketenaran akan membawaku pada puncak kebahagiaan. Membuka banyak jalan dan peluang dalam hidup serta menikmatinya sebagai seorang pemenang yang dapat mengangkangi mayat lawan-lawannya yang kini berubah status sebagai pecundang. Lagi-lagi itu hal yang keliru.

Dulu, seniman adalah cita-citaku. Sebab hanya senilah yang mampu membawaku pada suatu dunia antah berantah yang paling nikmat meski terlihat asing. Kebebasan, ya. Namun kenyataan berkata lain. Sekarang aku tak lagi menikmati karya seniku sendiri. Semuanya nampak sebagai barang komoditi. Dikoleksi, namun bukan untuk didalami atau direnungi akan makna di sebaliknya. Tapi hanya dijadikan objek lelang saja. Bahkan dianggap sebagai alat pencuci uang”.

Kisanak menghela nafas. Direguknya kopi pahit yang sudah dingin itu. Kemudian menyalakan kembali sigaret kreteknya yang tinggal seperempatnya lagi. Saya juga sedikit mengalihkan perhatian ke arah lalulalang kendaraan yang mulai jarang. Warung kopi pinggir jalan ini serasa lebih sepi. Saya juga sempat melirik ke arah kakek penjaja kopi yang mulai ngantuk dibuai dinginnya malam.

”Oya, kawan.....” Katanya melanjutkan”.....Aku harap engkau jangan menjadi orang sepertiku. Menjadi orang besar adalah resiko terburuk dalam hidupku. Membuat gila. Setiap gerak-gerik selalu merasa diawasi. Was-was jadinya. Apapun yang kulakukan selalu dianggap benar walau kenyataannya itu salah. Bahkan saat aku dipenjara akibat mengencingi simbol negara.

Sekarang aku sungguh putus asa. Potensiku yang besar tidak malah membuat hatiku lebih lapang. Pernah juga aku ingin banting stir menjadi penceramah agama saja. Setidaknya aku dapat berbuat lebih banyak untuk umat yang selama ini selalu tertipu oleh permainan dunia. Tapi tak mungkin. Miskinnya referensi membuatku kehilangan rasa. Apalagi kebanyakan pemuka agama sekarang ini tak lebih dari sekedar penyanyi dangdut. Dogma-dogma rohaniah dijual murah asal meriah. Bahkan digadaikan untuk urusan politik praktis yang tak jelas alang ujurnya. Memalukan. Entah sorga atau neraka mana yang mereka bicarakan. Dulu, ada juga yang menawariku sebagai ketua umum dari Partai Rakyat Iseng. Tentu saja aku tak mau. Partai dengan nama yang bagus-bagus saja banyak yang ngisengin rakyat, apalagi yang blak-blakan”.

Tiba-tiba sorot matanya menusuk tajam ke dalam kornea mata saya. Tembus ke hati. Dan suaranya bergetar dengan nada-nada yang aneh. Saya bergetar. Bahkan ngompol di celana. Bukannya takut, tapi.....entahlah.
”Kawan, malam ini aku akan bunuh diri. Tapi kau tidak boleh memberitahu-kannya pada siapapun juga. Kecuali kalau mayatku sudah ditemukan. Dan ingat, hanya dirimu yang tahu akan rencana ini”.

Saya hampir pingsan mendengarnya. Seluruh syaraf dan otot-otot dalam tubuh saya seakan tak berfungsi. Lemas.

”Kau tahu dimana aku akan mati?”

Saya gelengkan kepala dengan mata yang melotot. Dijambaknya krah baju saya. Lalu berbisik dengan mulutnya yang menempel hangat di telinga.

”..........”

Pagi tadi, mayatnya baru ditemukan. Terbujur kaku dalam gorong-gorong selokan yang alirannya menuju ke arah gedung pemerintahan di pusat kota. Dadanya penuh dengan sayatan silet tajam. Dan lukanya membentuk kalimat: Terimalah Cintaku.....

Tasikmalaya, 10-11-08/09